DENPASAR, balipuspanews.com – Industri pangan global kini dihadapkan pada tantangan ganda, yakni krisis bahan baku akibat perubahan iklim serta meningkatnya kesadaran konsumen terhadap kesehatan.
Menyikapi kondisi tersebut, penguatan strategi industri yang terintegrasi menjadi langkah krusial guna menjamin kualitas dan keamanan produk yang beredar di masyarakat.
Persoalan ini mengemuka dalam kuliah umum bertajuk “Food You Can Trust: Strategi Industri Pangan dalam Menjaga Kualitas dan Keamanan Produk untuk Meningkatkan Kepercayaan Konsumen” yang diselenggarakan oleh Fakultas Pertanian, Sains, dan Teknologi Universitas Warmadewa di Denpasar, Sabtu (28/3/2026).
Dekan Fakultas Pertanian, Sains, dan Teknologi Universitas Warmadewa, Prof. Dr. Ir. Luh Suriati, M.Si., dalam sambutannya menekankan bahwa tema tersebut sangat mendesak untuk dibahas. Menurutnya, industri pangan saat ini harus mampu menghasilkan produk yang tidak hanya bernilai ekonomi tinggi, tetapi juga memenuhi standar keamanan yang ketat.
“Perubahan iklim yang memengaruhi ketersediaan bahan baku menuntut industri pangan untuk mengembangkan strategi yang kuat dan terintegrasi,” ujar Prof. Suriati.
Dalam konteks penguatan industri, Prof. Suriati menggarisbawahi tiga poin kunci sebagai landasan operasional. Pertama, penerapan prinsip Good Manufacturing Practices (GMP) secara konsisten. Kepatuhan terhadap standar produksi ini ditegaskan bukan sekadar formalitas administratif, melainkan wujud tanggung jawab moral terhadap keselamatan konsumen.
Kedua, penguatan sistem manajemen mutu dan keamanan pangan melalui audit berkala serta investasi pada sumber daya manusia. Pelatihan tenaga kerja dinilai krusial untuk membangun budaya keamanan pangan (food safety culture) yang kuat di lingkungan produksi.
Ketiga, transparansi informasi produk. Kejelasan informasi dinilai mampu membangun kepercayaan publik sekaligus meningkatkan literasi konsumen.
Lebih lanjut, keberhasilan menjaga kualitas pangan memerlukan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan akademisi, regulator, dan pelaku industri. Perguruan tinggi dan lembaga penelitian berperan penting dalam menyediakan inovasi teknologi dan pengujian mutu, sementara pemerintah diharapkan menghadirkan regulasi yang konsisten untuk memberikan kepastian bagi pelaku usaha sekaligus perlindungan bagi masyarakat.
“Konsumen yang cerdas dan sadar akan standar keamanan pangan akan mendorong pelaku industri untuk terus meningkatkan kualitas produknya. Oleh karena itu, kampanye literasi yang mudah diakses perlu terus digencarkan,” tambahnya.
Pakar keamanan pangan, Ir. Ni Made Aryagandhi, yang hadir sebagai narasumber, menegaskan urgensi isu ini dengan menyoroti tingginya kasus keracunan makanan di berbagai daerah. Menurutnya, keracunan sering kali dipicu oleh faktor biologis seperti bakteri Salmonella dan E. coli, faktor kimia akibat penggunaan bahan tambahan pangan (BTP) yang tidak sesuai standar, hingga faktor fisik seperti cemaran pecahan kaca, besi, atau rambut.
“Isu keamanan pangan sangat krusial di tengah persaingan pasar global yang ketat. Produk kita tidak akan mampu bersaing jika konsistensi mutu dan kandungan gizinya diabaikan, atau bahkan sampai memanipulasi konsumen,” tegas Aryagandhi.
Ia menambahkan, untuk meraih kepercayaan konsumen internasional, industri harus memastikan produknya bebas dari tiga bahaya utama, yakni biologis, kimia, dan fisik. Pengendalian tersebut dimulai dari pemilihan bahan baku yang berkualitas, karena bahan baku yang buruk mustahil menghasilkan produk akhir yang aman dan bermutu.
Selain faktor teknis, Aryagandhi juga menyoroti tantangan terbesar dalam industri pangan adalah perilaku atau personal hygiene pekerja. Mengubah kebiasaan individu agar disiplin mencuci tangan, menggunakan penutup kepala, hingga melapor saat sakit membutuhkan waktu serta edukasi yang konsisten.
“Kebiasaan personal ini sangat vital karena risiko kontaminasi silang dari karyawan sangat tinggi. Ini menjadi tantangan besar yang saya hadapi selama berkecimpung di industri pangan,” ungkapnya.
Penulis : Muliarta
Editor : Oka Suryawan



