JAKARTA, balipuspanews.com – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN, Wihaji menegaskan penyiapan kualitas generasi muda di tengah tantangan peradaban baru (new civilization) dan era digital harus berakar dari penguatan ketahanan keluarga.
Menurutnya, keluarga diposisikan sebagai hal paling mendasar yang menentukan kualitas pembangunan bangsa ke depan.
“Keluarga adalah unit yang paling kecil dan terendah di sebuah negara. Maka kalau mau memperbaiki negara, perbaiki keluarga. Dimulai dari keluarga,” kata Menteri Wihaji saat acara Peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia 2026 berlangsung di Kemendukbangga/BKKBN, Jakarta, Jumat (30/10).
Wihaji juga menyoroti gambaran demografi Indonesia yang saat ini dihuni oleh 284 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 66 juta jiwa merupakan kelompok usia remaja dan muda dan sekitar 34,9 persen remaja Indonesia mengalami gangguan kesehatan mental.
Wihaji mengungkapkan kondisi tersebut menjadi tantangan yang perlu dihadapi bersama, termasuk dengan memperkuat peran remaja dalam memberikan dukungan kepada teman sebaya.
“Ini dampak dari tingginya keterikatan pada gawai dan algoritma digital turut berimbas pada kondisi psikologis remaja dan menjadi perhatian serius pemerintah,” tegas Wihaji.
Di sisi lain, maraknya penggunaan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) menjadi tempat meluapkan persoalan personal demi memvalidasi perasaan. Walau AI sanggup menyajikan beragam data dan pengetahuan secara instan, teknologi tersebut dinilai memiliki keterbatasan mendasar karena tidak dibekali empati.
“Hari ini kalau bicara pengetahuan, tanya saja di AI semua ada. Butuh ilmu pengetahuan apa saja, rumus apa saja, semua ada. Tetapi ingat, AI tidak punya hati,” ujarnya.
Wihaji menekankan atas dasar dinamika peradaban digital tersebut, pendekatan pembinaan remaja kini bergeser.
“Tolok ukur penyiapan generasi muda bukan lagi sekadar membuat mereka “siap kerja”, melainkan lebih mendasar lagi, yaitu “siap hidup”, tuturnya.
Wihaji menyebut salah satu solusinya, Kemendukbangga/BKKBN memberikan akses yang bisa diraih oleh para remaja yang mengalami potensi gangguan kesehatan mental, melalui PIK-R atau Pusat Informasi dan Konseling Remaja, serta Forum Generasi Berencana (Genre).
“Kedua forum inilah yang memberikan ruang kepada para remaja untuk bisa ngobrol, bisa diskusi, untuk bisa dididik menjadi konselor sebaya,” tutup Wihaji.
Penulis/editor: Ivan Iskandaria.



