BULELENG, balipuspanews.com – Permasalahan limbah organik dari industri pengolahan talas di Desa Wanagiri, Kecamatan Sukasada, kini menemukan solusi produktif melalui pendekatan ekonomi sirkular. Dengan penerapan teknologi tepat guna, limbah yang sebelumnya membebani lingkungan kini diolah menjadi pakan ternak berkualitas tinggi yang mampu meningkatkan kesejahteraan peternak lokal.
Akademisi Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi, Universitas Warmadewa, Ir. Ni Ketut Mardewi, MP, menegaskan bahwa kunci dari transformasi ini adalah penerapan konsep zero waste secara menyeluruh.
Dalam wawancara pada Selasa (5/5/2026), Mardewi menjelaskan strategi tersebut telah diimplementasikan di Kelompok Ternak Kambing Sami Mupu pada Minggu, 3 Mei 2026, dalam rangkaian kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat.
“Kami melihat potensi talas di Wanagiri sangat besar, mencapai 728,49 ton per tahun. Namun, seiring berkembangnya produksi keripik dan kue talas, limbah berupa kulit umbi, batang, dan daun justru menjadi persoalan lingkungan karena belum dimanfaatkan,” ujar Mardewi.
Menurutnya, tantangan utama limbah talas selama ini adalah kandungan zat anti-nutrisi kalsium oksalat yang menyebabkan rasa gatal serta tingginya kadar serat kasar. Untuk mengatasi hal tersebut, pihaknya memperkenalkan teknologi fermentasi dan pembuatan pelet yang mampu mengubah karakteristik limbah menjadi pakan fungsional.
“Melalui fermentasi, kita tidak hanya menghilangkan rasa gatal, tetapi juga meningkatkan nilai gizi secara signifikan. Berdasarkan uji laboratorium, kadar serat kasar berhasil diturunkan dari 21,56 persen menjadi 16,29 persen, sementara protein kasar meningkat dari 7,28 persen menjadi 11,47 persen,” jelasnya.
Implementasi di Banjar Dinas Bhuana Sari pada Minggu tersebut mencakup praktik langsung pengolahan limbah menjadi pakan fermentasi dan pelet. Mardewi menekankan bahwa dengan konsep zero waste, tidak ada lagi bagian tanaman talas yang terbuang.
“Konsep ini memastikan seluruh bagian tanaman masuk ke dalam siklus produksi. Daun, batang, hingga kulit umbi diproses menjadi pakan yang praktis, mudah disimpan dalam bentuk pelet, dan memiliki nutrisi merata,” tambahnya.
Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat Tahun 2026. Dengan dukungan tersebut, diharapkan inovasi ini mampu meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta kesejahteraan kelompok ternak.
Langkah ini diharapkan menjadi model pengelolaan limbah pertanian berkelanjutan yang dapat direplikasi di daerah lain. Selain mendukung ekonomi peternak, program ini juga sejalan dengan target pembangunan berkelanjutan (SDGs) dalam menciptakan ekosistem pertanian yang ramah lingkungan.
Penulis: Kadek Adnyana
Editor: Oka Suryawan




