Melihat Beji Taman Paluh Penarungan, Mengwi, Badung yang Sepi Pengunjung Akibat Pandemi Covid-19

Pancoran solas Beji Taman Paluh yang menjadi destinasi anyar wisata spiritual
Pancoran solas Beji Taman Paluh yang menjadi destinasi anyar wisata spiritual

Salah satu wisata spiritual yang baru dikembangkan adalah Beji Taman Paluh. Beji yang berlokasi di Banjar Dauh Peken, Penarungan itu memiliki pancoran solas untuk melukat.

Seperti apa?

AYU DIAH, Badung

Candi bentar berwarna coklat berdiri kokoh menyambut pengunjung Beji Taman Paluh. Lokasi beji yang oleh warga setempat diyakini memiliki aura magis yang sangat kuat itu memang tidak dipinggir jalan.

Dari traffic light Penarungan sedikit ke barat sekitar 100 meter. Selanjutnya ada jalan ke selatan. Sekitar 200 meter ada gang masuk ke barat. Berjalan sedikit ada jalan menurun dan langsung nyampai di pintu masuk.

Dari Kota Denpasar butuh waktu 30 menit untuk sampai di Beji Taman Paluh. Di sisi kiri pintu masuk terdapat himbauan sebelum memasuki area suci ini dan juga baliho dari Desa Penarungan mengenai protokol kesehatan. Bukan hanya peringatan, tetapi ada pula tempat cuci tangan yang tersedia di sisi kanannya.

Setelah mencuci tangan, pengunjung langsung masuk menuruni anak tangga.

Wulandari, salah seorang warga yang menemani redaksi balipuspanews.com ke lokasi menerangkan, bahwa kamar mandi dan tempat menitipkan barang ada di bagian belakang.

“Kalau tempat pengelukatan ada di sini (bagian depan),” kata Wulandari sembari mengajak melihat-lihat sekitar.

Selain sebagai tempat melukat, menurut Wulandari, di areal Taman Paluh terdapat mata air yang di konsumsi warga sekitar.

“Di sebelah kiri itu ada mata air. Kami sekeluarga biasa mencari air minum di sana,” terangnya.

Wulandari menceritakan, saat dirinya kena sakit cacar sempat membasuh diri di salah satu pancoran. Hasilnya, ada sedikit keanehan.

“Cacarnya mau hilang, bahkan bekasnya gak lama juga menghilang,” kenangnya.

Saat balipuspanews.com ada di lokasi, Beji Taman Paluh sedang sepi pengunjung.

Nyoman Oka Saputra, warga Penarungan yang rumahnya berdekatan dengan Beji Taman Paluh menambahkan, belakangan pengunjung yang datang melukat bisa dihitung dengan jari.

“Tidak seperti sebelum pandemi Covid, pengunjung yang datang lumayan banyak. Sekarang agak sepi,” kata Oka Saputra.

Untuk warga yang ingin melukat di Pancoran Solas Beji Taman Paluh, pengunjung akan dituntun Jero Mangku. Diawali dengan menghaturkan pejati sebelum melukat.

Taman Beji Paluh dijadikan wisata spiritual setelah selesai dilakukan pembangunan taman dan fasilitas pendukungnya.

Cerita yang berkembang, konon pada jaman dahulu kala, air yang mengucur di Taman Beji Paluh adalah merupakan sungai yang mengaliri Tukad Yeh Penet dan Bebengan.

Namun, dikarenakan subak Desa Kapal memerlukan aliran air untuk mengaliri persawahan di Desa Kapal, maka masyarakat mencoba untuk mengarahkan aliran Mata Air dari Desa Penarungan ke Desa Kapal, yang dimulai dari Banjar Abing – yang sekarang dikenal sebagai Banjar Dauh Peken – dengan cara dibuatkan urugan (sebagai pembatas) untuk mengarahkan aliran air.

Namun ternyata, usaha tersebut tidaklah mudah karena urugan yang dibuat tersebut selalu jebol.

Diceritakan kemudian, konon akibat hal tersebut ada salah satu anggota masyarakat secara tidak sengaja berihtiar memohon pada penguasa alam bahwa barang siapa yang datang paling akhir akan dipakai pekelem (tumbal) agar usaha yang dilakukan dapat berhasil.

Dan Hal tersebut akhirnya benar – benar terjadi. Seseorang yang datang paling akhir – yang dikenal seorang Pangliman (Petugas pengatur air) – terjatuh dan meninggal dunia saat berjalan di pinggir urukan sungai. Sejak saat itu akhirnya urugan yang dibuat tidak pernah lagi mengalami masalah hingga saat ini.

Bekas jebolan urugan sungai tersebut membuat permukaan tanah menjadi tidak rata atau “mepaluh-paluh” hingga kemudian tempat bekas urugan tersebut dikenal sebagai Taman Beji Paluh hingga saat ini.

EDITOR : Oka Suryawan