JAKARTA, balipuspanews.com – Indonesia sedang memasuki babak baru pembangunan kependudukan. Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 menandai tonggak penting dalam perjalanan pembangunan kependudukan Indonesia.
Sesmendukbangga sekaligus Sekretaris Utama BKKBN, Budi Setiyono mengungkapkan untuk pertama kalinya, Indonesia secara resmi memasuki fase aging population yaitu ketika proporsi penduduk lanjut usia mencapai 11,97 persen dari total penduduk. Pada saat yang sama, laju pertumbuhan penduduk melambat menjadi 1,08 persen per tahun, Total Fertility Rate (TFR) turun menjadi 2,13 anak per perempuan, mendekati tingkat penggantian (replacement level), sementara rasio ketergantungan meningkat menjadi 45,05.
Menurut Budi, kondisi ini menunjukkan bahwa struktur umur penduduk Indonesia sedang mengalami perubahan yang mendasar. Namun, keberhasilan tersebut juga menghadirkan tantangan baru.
“Semakin banyak keluarga yang harus memenuhi kebutuhan dua generasi sekaligus, yaitu anak-anak yang masih menjadi tanggungan dan orang tua yang memasuki usia lanjut. Fenomena ini dikenal sebagai sandwich generation,” kata Budi.
Ia menjelaskan perubahan tersebut sesungguhnya merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan. Masyarakat Indonesia hidup lebih lama, kualitas kesehatan semakin baik, dan angka kematian terus menurun. Namun, perubahan demografi tersebut juga membawa konsekuensi baru yang perlu diantisipasi, yaitu meningkatnya kebutuhan perlindungan sosial bagi lansia serta bertambahnya beban yang ditanggung oleh penduduk usia produktif.
“Dalam ilmu kependudukan, kondisi ini dikenal sebagai konsekuensi dari transisi demografi, yaitu perubahan struktur penduduk akibat menurunnya angka kelahiran dan meningkatnya angka harapan hidup. Hampir seluruh negara yang berhasil meningkatkan kualitas hidup penduduk akan memasuki fase ini. Tantangannya bukan terletak pada meningkatnya jumlah lansia, melainkan pada kesiapan sistem keluarga, ekonomi, kesehatan, dan perlindungan sosial dalam menghadapi perubahan tersebut,” tuturnya.
Apabila SUPAS 2025 menggambarkan perubahan struktur penduduk pada tingkat nasional, maka Pendataan Keluarga (PK) Kemendukbangga/BKKBN memperlihatkan lebih lanjut bagaimana perubahan tersebut telah dirasakan langsung oleh keluarga Indonesia.
Budi menyebut hasil pemutakhiran Pendataan Keluarga Tahun 2025 menunjukkan terdapat sekitar 25,17 juta keluarga, atau sekitar 33,98 persen dari seluruh keluarga yang terdata, memiliki sedikitnya satu anggota lanjut usia. Artinya, hampir satu dari tiga keluarga Indonesia saat ini hidup bersama lansia.
“Data tersebut menunjukkan bahwa proses penuaan penduduk (population aging) bukan lagi sekadar proyeksi masa depan, tetapi telah menjadi realitas yang dihadapi keluarga Indonesia. Semakin banyak keluarga yang mulai menghadapi kebutuhan perawatan lansia bersamaan dengan tanggung jawab membesarkan anak,” ujarnya.
Salah satu implikasi paling nyata dari perubahan tersebut adalah meningkatnya potensi sandwich generation yaitu kelompok penduduk usia produktif yang secara bersamaan harus membiayai dan merawat dua generasi sekaligus: anak-anak yang masih menjadi tanggungan dan orang tua yang memasuki usia lanjut.
“Fenomena ini bukan semata-mata persoalan rumah tangga, tetapi merupakan konsekuensi sosial dan ekonomi dari perubahan demografi. Fenomena ini menjadi perhatian penting karena Indonesia masih berada dalam periode bonus demografi,” ungkapnya.
Fenomena sandwich generation menjadi salah satu implikasi yang perlu diantisipasi sejak dini. Oleh karena itu, penguatan ketahanan keluarga, sistem perlindungan sosial, pembangunan kependudukan, dan pelayanan bagi lanjut usia harus menjadi bagian integral dari strategi pembangunan nasional. Dengan program SIDAYA (Lansia Berdaya), Kemendukbangga/BKKBN tidak hanya berusaha menjaga keberlanjutan bonus demografi, tetapi juga membangun masyarakat menua yang sehat, mandiri, produktif, dan sejahtera menuju Indonesia Emas 2045.
Penulis/editor: Ivan Iskandaria.



