DENPASAR, balipuspanews.com-
Beragam ceritra mewarnai Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) jenjang SMA tahun ajaran 2019/2020. Salah satu cerita miris dialami RS, calon siswi yang tinggal di kawasan Jalan Sedap Malam, Denpasar, Timur.
RS yang berkeinginan sejak dulu sekolah di SMA Negeri 3 Denpasar dan Smansa, karena zonasi akhirnya mendaftar di SMAN 6 Denpasar lewat jalur zonasi dipastikan terpental karena jarak rumah dengan sekolah tujuan berjarak 1,7 km. Kuota peserta didik baru telah disesaki pelamar dari zona yang lebih dekat.
Situasi tersebut membuat peraih Nilai Ujian Nasional (NUN) 38,6 ini mengalami gejala depresi. “Tiga hari belakangan anak kami nangis terus, frustasi, makan harus dipaksa dan mengancam putus sekolah,” kata kedua orangtua RS usai menyampaikan keluhan di Kantor Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Bali, Rabu (3/7).
Bahkan, RS sampai memaksa kedua orangtuanya menjual rumah kediamannya saat ini, kemudian membeli rumah di dekat sekolah demi meraih satu kursi di sekolah negeri. Orangtua RS berusaha menyadarkan putri keduanya itu dengan alternatif melanjutkan ke SMA swasta.
Sialnya, sejumlah SMA swasta yang sesuai dengan kriteria RS telah menutup pintu pendaftaran. “Situasi ini membuat dia semakin shock. Kami sebagai orangtua sangat khawatir terjadi apa-apa dengan anak kami. Kami rela sudah 3 hari libur kerja, demi ngurus ini,” kata ibu RS dengan raut muka cemas.
Ayah RS mengaku sangat geram dengan sistem PPDB tahun ini. Ia mendesak pemerintah melalui dinas pendidikan segera mengevaluasi dan menghapus pendaftar dengan surat domisili. Ia menduga ada oknum yang memainkan domisili.
“Surat domisi harus dihapus, karena ada yang belum 6 bulan ngurus domisili tapi bisa digunakan mendaftar,” pintanya. Pria asal Gianyar ini lantas meyarankan kembali menggunakan NUN sebagai acuan. “Percuma anak saya berjuang tiga tahun demi masuk SMA negeri kalau pakai zona. Ini namanya pinter kalah sama meter,” keluhnya.
Calon siswi lain yang tinggal di Desa Peguyangan, Denpasar Timur juga bernasib serupa. SMA terdekat dari kediamannya di Perumahan Patih Nambi adalah SMAN 8 Denpasar. Namun ia kalah bersaing dengan calon murid yang lebih dekat dengan sekolah.
“Anak saya juga gak mau keluar kamar dan susah makan. Apalagi saat dia tahu teman-teman yang nilainya lebih rendah waktu SMP malah diterima, dia tambah shock dan kecewa. Dia merasa percuma belajar selama ini,” pungkas sumber.
Kondisi yang sama juga dialami puluhan calon peserta didik lainnya. Terlihat para orangtua mendatangi kantor Disdik Bali. Mereka berharap Disdik melahirkan solusi agar putra-putri mereka bisa melanjutkan pendidikan di SMA negeri. (bud/bpn/tim).



