BULELENG, balipuspanews.com — Wisuda sering kali dipandang sebagai garis akhir dari sebuah perjuangan panjang. Setelah bertahun-tahun menjalani perkuliahan, menyelesaikan tugas, bergulat dengan penelitian, dan melewati berbagai tantangan akademik, toga akhirnya dikenakan dan gelar sarjana resmi disandang. Namun, di balik kebahagiaan itu, ada satu pertanyaan penting yang layak direnungkan: setelah menjadi sarjana, kita akan menjadi manusia seperti apa?
Pesan reflektif inilah yang menjadi relevan dalam momentum Wisuda II Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan, ketika sebanyak 369 wisudawan dan wisudawati Fakultas Dharma Acarya dikukuhkan sebagai sarjana pada Jumat (23/10/2026). Momen ini bukan sekadar perayaan atas keberhasilan akademik, melainkan juga awal dari tanggung jawab yang lebih luas: membawa ilmu pengetahuan keluar dari ruang kuliah dan menghadirkannya sebagai sesuatu yang bermakna bagi kehidupan.
Dekan Fakultas Dharma Acarya, Dr. Gusti Ngurah Arya Yudaparmita, S.Pd., M.Pd., mengajak para lulusan untuk memaknai gelar sarjana lebih dari sekadar identitas akademik. Gelar bukanlah jaminan bahwa seseorang telah selesai belajar, apalagi ukuran tunggal keberhasilan hidup. Sebaliknya, gelar merupakan pengingat bahwa pengetahuan yang telah diperoleh harus dipertanggungjawabkan melalui sikap, keputusan, dan tindakan nyata.
“Menjadi sarjana bukan hanya tentang apa yang kita ketahui, melainkan juga tentang apa yang kita lakukan dengan pengetahuan itu,” tegasnya.
Di tengah masyarakat yang terus berubah, lulusan perguruan tinggi tidak cukup hanya mengandalkan ijazah. Dunia membutuhkan manusia yang mampu berpikir kritis, terbuka terhadap perubahan, berani menghadapi persoalan, dan tetap memiliki pegangan nilai ketika berhadapan dengan berbagai pilihan. Kecakapan akademik memang penting, tetapi kecakapan tersebut akan kehilangan maknanya apabila tidak disertai kejujuran, kerendahan hati, dan kepedulian terhadap sesama.
Bagi para sarjana Fakultas Dharma Acarya, refleksi ini memiliki makna tersendiri. Pendidikan pada hakikatnya bukan semata-mata proses memindahkan pengetahuan, melainkan juga upaya memanusiakan manusia. Karena itu, siapa pun yang mengambil bagian dalam dunia pendidikan memiliki tanggung jawab untuk melihat peserta didik bukan sekadar sebagai angka dalam daftar nilai, tetapi sebagai manusia yang sedang bertumbuh, mencari arah, dan membangun masa depannya.
Para lulusan diharapkan tidak berhenti menjadi orang-orang yang menguasai teori pendidikan, tetapi mampu menghadirkan pendidikan yang memberi harapan. Di sekolah, masyarakat, maupun ruang pengabdian lainnya, mereka dapat mengambil peran melalui keteladanan, kreativitas, dan keberanian menghadirkan perubahan. Sebab, pendidikan yang baik tidak hanya dikenang melalui materi yang disampaikan, tetapi juga melalui karakter yang ditumbuhkan dan kehidupan yang disentuh.
“Ilmu yang berhenti pada diri sendiri hanya akan menjadi pencapaian pribadi. Ilmu yang dibagikan, dipraktikkan, dan digunakan untuk membantu orang lain akan menjadi pengabdian,” ajaknya.
Pesan ini juga penting bagi mahasiswa yang masih menempuh pendidikan di Fakultas Dharma Acarya. Perjalanan menuju wisuda bukanlah perlombaan untuk sekadar menyelesaikan semester, mengumpulkan nilai, atau memperoleh gelar secepat mungkin. Masa kuliah adalah kesempatan untuk membangun cara berpikir, melatih kedisiplinan, menguji gagasan, belajar dari kegagalan, dan mengenali tanggung jawab diri terhadap lingkungan.
Tidak semua proses berjalan sesuai harapan. Ada tugas yang terasa berat, penelitian yang menemui jalan buntu, rencana yang harus diubah, hingga kegagalan yang terkadang membuat seseorang meragukan kemampuannya sendiri. Namun, justru melalui proses-proses itulah ketekunan, kedewasaan, dan kemampuan untuk bangkit dibentuk. Wisuda yang dirayakan hari ini sesungguhnya merupakan akumulasi dari banyak perjuangan yang mungkin tidak seluruhnya terlihat oleh orang lain.
Karena itu, mahasiswa yang belum diwisuda tidak perlu merasa tertinggal. Setiap orang memiliki proses dan tantangannya masing-masing. Hal yang lebih penting adalah memastikan bahwa setiap langkah perkuliahan membawa pertumbuhan, bukan hanya mendekatkan diri pada kelulusan. Belajarlah bukan semata-mata agar lulus ujian, melainkan agar mampu memahami persoalan kehidupan dan menemukan cara untuk ikut menyelesaikannya.
Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tinggi tidak hanya dapat dibaca dari berapa banyak mahasiswa yang diwisuda, tetapi juga dari bagaimana para lulusan menjalani kehidupan setelah meninggalkan kampus. Apakah mereka menjadi pribadi yang tetap mau belajar? Apakah mereka mampu menjaga integritas ketika menghadapi godaan untuk mengambil jalan pintas? Apakah ilmu yang dimiliki memberi manfaat bagi orang-orang di sekitarnya?
“Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi bahan refleksi yang patut dibawa pulang oleh setiap wisudawan dan wisudawati,” ingatnya kepada para wisudawan.
Wisuda II IAHN Mpu Kuturan, khususnya bagi 369 sarjana Fakultas Dharma Acarya, pada akhirnya bukan hanya tentang toga, ijazah, dan gelar yang disandang. Lebih dari itu, wisuda adalah perjumpaan antara rasa syukur atas perjuangan yang telah dilalui dan kesadaran atas tanggung jawab yang menanti di depan.
Kampus mungkin menjadi tempat seseorang memperoleh ilmu, tetapi kehidupanlah yang akan menguji bagaimana ilmu itu digunakan. Gelar sarjana mungkin membuka pintu kesempatan, tetapi karakter, ketekunan, dan pengabdianlah yang akan menentukan makna dari perjalanan setelahnya.
Maka, ketika toga dilepas dan perayaan berakhir, ada satu hal yang semestinya tetap tinggal: tekad untuk terus bertumbuh dan memberi arti. Sebab, pada akhirnya, ukuran paling bermakna dari seorang sarjana bukanlah seberapa tinggi gelar yang disandangnya, melainkan seberapa besar manfaat yang dapat dihadirkannya bagi kehidupan.
Penulis : Nyoman Darma
Editor : Oka Suryawan



