Ini Pernyataan Dirjen Bimas Hindu yang membuat Tertawa Seluruh Anggota Komisi VIII DPR

JAKARTA, balipuspanews.com- Rapat dengar pendapat (RDP) Komisi VIII DPR RI dengan Sekretaris Jenderal dan Pejabat Eselon I termasuk Dirjen Bimbingan Masyarakat (Bimas) Hindu Kementerian Agama RI, Selasa malam (15/9/2020) acapkali diselingi tawa dan canda.

Momen itu juga terekam tatkala Dirjen Bimas Hindu Tri Handoko Seto memaparkan tentang Pendalaman Pembahasan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA-K/L)) Tahun Anggaran 2021 beserta pembahasan isu-isu aktual dan solusinya di ruang Komisi VIII DPR.

Dalam paparannya, Tri Handoko Seto mengungkapkan mengenai sejumlah program pada direktorat yang dipimpinnya baik yang menyangkut program berkaitan dengan fungsi agama, fungsi pendidikan, maupun untuk kerukunan umat beragama dan pelayanan umat Hindu di Indonesia.

“Perlu juga saya sampaikan pembinaan keluarga sukinah. Kalau di muslim disebut dengan keluarga sakinah. Keluarga sukinah dalam pelayanan umat Hindu akan kita tingkatkan,” ucap Seto, panggilan Tri Handoko Seto.

Rupanya, banyak di antara pimpinan dan anggota Komisi VIII RI yang belum banyak tau kemiripan kata antara keluarga “sakinah” yang disematkan di keluarga muslim, dengan kata “sukinah” yang disematkan untuk keluarga umat Hindu.

“Kok mirip ya?” celutuk salah seorang anggota Komisi yang membidangi Sosial dan Agama itu.

Anggota yang lainpun menimpali,”Apa keluarga sukinah ini terinpirasi keluarga sakinah,” kelakar salah seorang anggota Komisi VIII DPR lainnya.

Tak mau berdebat serius, Dirjen Bimas Hindu pun memberi jawaban enteng. “Saya khawatir jangan-jangan sakinah itu awal katanya sukinah Pak,” tegas Tri Handoko Seto disambut riuh tawa pimpinan, anggota Komisi VIII serta pejabat eselon I Kemenag RI.

Yang pasti, tegas Dirjen Bimas Hindu, keluarga sukinah umat Hindu menjadi salah satu fokus dari program Bimas Hindu ke depannya. “Keluarga sukinah akan kita bina ini,” tegas Seto.

Pada bagian lain paparannya, Dirjen Bimas Hindu mengungkapkan masih banyaknya kendala yang ditemui Bimas Hindu dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia, pendidikan, kerukunan antar umat beragama, serta peningkatan sarana dan prasarana.

Ia mencontoh, terkait pengadaan kitab suci dan guru agama. Untuk pendidikan siswa-siswi Hindu masih banyak yang belajar di Pura atau di pasraman non formal dengan jam belajar di hari Minggu bukan di hari kerja.

Kendalanya karena minimnya guru agama Hindu, sehingga siswa siswi Hindu tidak bisa memperoleh pelajaran dari guru agama di sekolah dimana siswa siswi yang bersangkutan menuntut ilmu.

Seto juga mengungkapkan tentang kunjungannya ke Perguruan Tinggi Agama Hindu tertua di Pulau Jawa belum lama ini.

“Saya belum lama ini ke Klaten, di situ ada Perguruan Tinggi Agama Hindu tertua di Pulau Jawa. Mohon maaf pak, kondisinya sangat memprihatinkan tidak jauh berbeda kondisinya dengan sekolah SD bapak ibu sekalian. Ini cukup memprihatinkan, Oleh karenanya kami mohon pertian untuk teman-teman kami di sana,” pinta Seto kepada Komisi DPR RI yang diketuai oleh Yandri Susanto tersebut.

Seto mengungkapkan jumlahnya Umat Hindu di Indonesia saat ini sekitar 5 juta umat, namun sebarannya sama dengan umat lainnya. Tetapi ia menyayangkan kualitas umat Hindu masih sangat rndah baik dari sisi SDM maupun tingkat ekonominya.

“Lembaga pendidikanya juga rendah dan yang penting bahwa kerukunan umat beragama juga mulai ada godaan akhir-akhir ini. Oleh karenanya, ke depan kami fokus pada kerukunan umat, dialog antar umat beragama sebagaimana diamanatkan presiden dalam target RPJMN 2020-2024,” tegasnya.

Penulis/Editor: Hardianto