Terdakwa Natalia penilep uang perusahaan.
Terdakwa Natalia penilep uang perusahaan.
sewa motor matic murah dibali

DENPASAR, balipuspanews.com- Leila Natalia Tumewu (41) wanita asal Gorontalo ini terus mengenakan masker untuk menghindari bidikan foto wartawan. Pemilik rambut sebahu itu diadili dalam kasus dugaan menilep uang perusahaan.

Jumlahnya memang tidak sampai ratusan juta, apalagi sampai miliaran. Namun kepercayaan yang diberikan perusahaan PT. Makmur Bersama Sejatera terhadap terdakwa sebagai supervisor justru disalahgunakan dengan menggelapkan uang sebesar Rp17.725.000.

Oleh JPU dipersidangan ruang Sari, wanita ini dididakwa dengan dakwaan tunggal yakni Pasal 374 KUHP dengan ancaman pidana penjara paling lama 5 tahun.

“Terdakwa dengan sengaja atau melawan hukum memiliki barang sesuatu yang kepunyaan orang lain dan bukan haknya. Dimana, dilakukan oleh orang yang memengang barang itu berhubungan dengan jabatannya atau pekerjaanya ataun karena mendapat upah,” tuding Jaksa Ika Lusiana Fatmawati dihadapan Hakim Ketua I Wayan Kawisada, S.H., M.H., Rabu (21/8) di PN Denpasar.

Dibeberkan Jaksa bahwa terdakwa oleh pihak PT. Makmur Bersama Sejahtera diberi kepecayaan sebagai supervisor untuk wilayah Bali terhutung sejak 5 Januari 2105.

PT. Makmur Bersama adalah mitra dari PT. Telkom Witel Denpasar yang bergerak di bidang agency Indohome. Soal penghitungan atau menghitung penjualan dan pembayaran gaji kepada para sales yang dibawahinya ditugaskan kepada terdakwa.

Atas pekerjaanya ini, terdakwa mendapat upah terngantung dari besar kecilnya penjualan sales. Dalam perjalannya sebagai supervisor, terdakwa malah menyalahgunakan jabatan yang diberikan oleh perusahaan.

“Pada 10 Oktober Agustus 2018, terdakwa mengirim email pengajuan total gaji dan bonus untuk 12 orang sales yang dibawahinya pada bulan Agustus 2018 yakni sebesar Rp81.345.000 kepada kepada saksi Jong Penarti selaku komisaris PT. Makmur Bersama Sejahtera. Dari total Rp81.450.000, terdakwa mendapat bagian sebesar Rp8.600.000,” beber JPU.

Atas pengajuan itu, masih dalam dakwaan pihak perusahaan mentrasnfer secara bertahap ke rekenning atas nama terdakwa yakni pada tanggal 1 Sepetember 2018 sebesar Rp 46.500.000 dan 13 Oktober 2018 sebesar Rp34.845.000.

Seharusnya komisi yang diterima oleh 12 orang sales itu pada bulan Agustus 2018 sesuai dengan data yang diterima terdakwa dari PT. Telkom yakni Rp 63.620.000.

“Sehingga akibat perbuatan terdakwa tersebut PT.Makmur Bersama Sejahtera mengalami kerugian sekitar Rp17.725.000,” beber Jaksa dari Kejari Denpasar ini.

Menanggapi dakwaan JPU, terdakwa yang didampingi penasehat hukumnya mengajukan keberatan atau eksepsi yang akan dibacakan pada Selasa (27/8). Selain itu, penasehat hukum terdakwa juga mengajukan surat penanguhan penahanan terhadap terdakwa.

Dasarnya, pada saat penyidikan di kepolisian tanggal 11 Meret 2019, terdakwa mendapat penanguhan namun saat pelimpahan tahap II (P21) di Kejari Denpasar, terdakwa ditahan dengan jenis penahan Rutan sejak tanggal hingga 27 Agustus 2019. (jr/bpn/tim)