Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

TABANAN, Balipuspanwes.com – Dalam sebuah pementasan topeng wali atau prembon, menjadi menu wajib dipentaskan topeng tua. Pementasan topeng tua ini merupakan penglembar atau pembuka pementasan dan umumnya ditampilkan setelah topeng keras.

Lalu bagaimana sejatinya makna dari penokohan topeng tua tersebut? Berikut www.balipuspanews menyajikannya.

Seorang seniman arja multi talenta dari Banjar Pasekan Baleran, Desa Dajan Peken, Tabanan I Putu “Ajus” Purnawan pada Selasa (12/2) mengatakan sebagai penglembar sama halnya topeng keras, pementasan topeng tua berdiri sendiri dan tidak masuk dalam bagian cerita yang akan dikisahkan. Meski demikian, pementasan topeng tua sangat penting dan menjadi janggal ketika topeng wali atau prembon pentas tanpa diawali topeng tua.

Purnawan kemudian menjelaskan tentang sejarah keberadaan Wreda Lumaku atau topeng tua. Dari berbagai sumber yang ditemuinya, kelahiran keberadaan topeng tua bisa disebutkan bersamaan dengan topeng Dalem, topeng Sidakarya dan topeng Penasar.

“Pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong beberapa abad silam, usai berlangsungnya karya agung di Besakih Dalem memerintahkan seniman topeng yakni Angkelud Aya membuat topeng,” sebutnya.

Purnawan memaparkan, atas perintah tersebut, Angkelud Aya membuat empat rupa topeng. Yakni topeng Dalem atau topeng Arsa Wijaya sebagai penggambaran Dalem Waturenggong, topeng Sidakarya penggambaran Brahmana Keling, topeng tua penggambaran Ida Danghyang Nirarta dan satu lagi topeng Penasar.

“Topeng Penasar ini sendiri penggambaran terhadap dirinya sendiri atau penggambaran Angkelud Aya,” jelasnya.

Diakuinya, dari penggambaran dan gerakan dalam pementasan topeng tua menyiratkan beragam pesan. Berbeda dengan gerakan pementasan topeng keras yang berkesan agresif, topeng tua justru lembut dan menggambarkan prilaku seorang laki-laki tua yang bijak.

Gerakan pementasan topeng tua juga menyiratkan beromantismenya seseorang yang sudah tua terhadap masa mudanya yang energik. Ini divisualkan dengan beberapa gerakannya yang seakan-akan penuh semangat, namun tiba-tiba terhuyung.

Sementara imbuhnya, dari penggambaran rupa topeng tua juga memiliki arti yang berbeda. Umumnya, penggambaran topeng tua ini ada dua rupa. Yakni rupa yang bersih, putih, rapi dan ganteng. Menurutnya ini penggambaran ini menyiratkan pada masa mudanya merupakan sosok yang berwibawa, berpengaruh atau tokoh masyarakat. Rupa satunya lagi agak kumal dan kurang rapi yang menggambarkan pada masa mudanya merupakan rakyat jelata.

“Seperti yang saya sebutkan tadi, dari pementasan topeng tua terungkap pesan bahwa setiap manusia apalagi telah beranjak tua harus bisa bersikap bijak,” pungkasnya. (rah/bpn/tim)

Advertisement
Loading...