Kamis, Juni 25, 2026
spot_img

Sanggar Titi Bah Tampil Memukau di PKB 2026, Arja Klasik “Kembar Buncing” Badung Angkat Pesan Kemurnian Jiwa

- Advertisement -
- Advertisement -

DENPASAR, balipuspanews.com – Duta Kabupaten Badung, Sanggar Titi Bah, sukses memukau penonton dalam Utsawa (Parade) Arja Klasik Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Provinsi Bali, Art Center Denpasar, Selasa (23/6/2026).

Mengusung garapan Arja Klasik bertajuk “Kembar Buncing”, pementasan ini menghadirkan kisah yang sarat nilai spiritual, filosofi kehidupan, dan pesan tentang kemurnian jiwa.

Ketua sekaligus pembina tari Sanggar Titi Bah, I Gusti Made Sunadi, menjelaskan bahwa “Kembar Buncing” diangkat dari cerita dalam Geguritan Ganda Wirasa yang sebelumnya pernah diproduksi oleh Keluarga Kesenian Bali RRI Denpasar.

Cerita tersebut mengisahkan perjalanan Putra Mahkota Kerajaan Supala yang sejak kecil hidup dan dibesarkan di tengah hutan demi menghindari ancaman musuh.

Setelah dewasa, sang putra melakukan perjalanan untuk mencari saudara kembarnya yang terpisah sejak kecil hingga akhirnya bertemu kembali di Kerajaan Candra Buwana.

Menurut Sunadi, pemilihan cerita tersebut selaras dengan tema besar PKB 2026, yakni Atma Kerthi, yang menitikberatkan pada upaya menjaga kesucian dan kemurnian jiwa manusia.

BACA :  Musim Layang-Layang Tiba, PLN Bali Intensifkan Edukasi untuk Cegah Gangguan Listrik

“Setiap manusia memiliki kemurnian jiwa. Dalam perjalanan hidup, manusia tidak lepas dari pengaruh karma dan berbagai godaan duniawi. Melalui Atma Kerthi, manusia diajak untuk membersihkan diri dan kembali pada kemurnian jiwa tersebut,” ungkapnya.

Pementasan Arja Klasik “Kembar Buncing” melibatkan 24 seniman yang terdiri dari 12 pemain dan 12 penabuh gamelan.

Persiapan pertunjukan telah dilakukan sejak Februari 2026 dengan durasi pementasan sekitar tiga setengah jam.

Ia menambahkan, pemilihan cerita tersebut bukan semata-mata menghadirkan inspirasi baru, melainkan sebagai bentuk pengembangan dan pengalihwujudan cerita klasik dalam Geguritan Ganda Wirasa menjadi pertunjukan Arja yang tetap berpijak pada pakem tradisi.

Di tengah tantangan regenerasi, Sunadi mengakui minat generasi muda terhadap seni Arja masih menjadi pekerjaan rumah. Namun, ia optimistis generasi muda Bali tetap memiliki ruang dan keinginan untuk mempelajari serta melestarikan kesenian tradisi.

“Anak-anak sekarang mungkin belum banyak yang tertarik dengan Arja, tetapi kita harus optimistis mereka pasti bisa, mau, dan mencintai seni tradisi jika terus diberikan ruang dan kesempatan,” ujarnya.

BACA :  RX King Vs Mio di Simpang 3 Ujung, Dua Korban Dilarikan ke RSUD Karangasem

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung, I Gede Sukada, mengatakan Arja Klasik merupakan warisan seni adiluhung yang tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga tuntunan karena mengandung nilai-nilai filosofis yang relevan dengan kehidupan masyarakat.

“Arja Klasik memiliki makna dan pesan kehidupan yang sangat dalam. Ini adalah warisan budaya Kabupaten Badung yang wajib kita jaga dan lestarikan bersama,” katanya.

Sukada menambahkan, Pemerintah Kabupaten Badung di bawah kepemimpinan Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa memiliki komitmen kuat untuk menggali dan mengembangkan potensi seni budaya yang tersebar di seluruh desa dan kelurahan di Kabupaten Badung.

Pementasan Arja Klasik oleh Sanggar Titi Bah diharapkan menjadi pemantik bagi banjar-banjar lain untuk kembali membangkitkan potensi seni tradisi yang dimiliki masing-masing wilayah, sejalan dengan visi pembangunan pariwisata berkualitas yang berlandaskan nilai-nilai budaya Bali.

Menurut Sukada, kekuatan Arja Klasik terletak pada perpaduan unsur tari, vokal, dialog, dan tabuh gamelan yang tersusun dalam pakem kesenian Bali. Melalui penampilan Sanggar Titi Bah, masyarakat dapat menyaksikan kekhasan Arja Klasik gaya Badung yang diharapkan menjadi inspirasi bagi sanggar maupun komunitas seni lainnya.

BACA :  11 Pegawai PPPK Karangasem Tak Diperpanjang, Dua Dipecat, Sembilan Mengundurkan Diri

Terkait regenerasi seniman muda, Sukada menilai antusias generasi muda Badung terhadap seni tradisi masih sangat besar. Hal itu tercermin dari tingginya minat dalam program Banjar Menari, di mana pemerintah menyiapkan tenaga pengajar tari dan tabuh yang akan disebar ke 62 desa dan kelurahan di Kabupaten Badung.

“Fenomena ini menunjukkan bahwa generasi muda masih memiliki semangat untuk menggali, melestarikan, bahkan mengembangkan seni tradisi ke arah yang lebih baik,” pungkasnya.

Penulis : Kadek Adnyana
Editor : Oka Suryawan 

Follow Balipuspanews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News
RELATED ARTICLES

ADS

- Advertisment -
- Advertisment -

Most Popular