Jumat, Juni 14, 2024
BerandaJembranaGaji Belum Dibayar, Karyawan Ngelurug Kantor

Gaji Belum Dibayar, Karyawan Ngelurug Kantor

NEGARA,balipuspanews.com- Setelah beberapa kali mediasi dilakukan oleh DPRD Jembrana maupun DPRD Provinsi Bali namun gaji karyawan Perusda Bali di Unit Perkebunan Pulukan yang dipekerjakan PT Citra Indah Praya Lesatari (CIPL) hingga kini belum dibayar.

Akibatnya kesabaran puluhan karyawan tersebut habis dan mereka neglurug kantor perusahaan.Setelah sejak Minggu (1/12) mereka mogok kerja Selasa (10/12) mereka ngelurug kantor Perkebunan Pulukan di Jalan Pekutatan-Pupuan, Banjar Pasar, Pekutatan Berdasarkan.

Mereka menduduki kantor. Karena kesabaran mereka sudah habis mereka yang sudah geram kemudian menyegel pintu kantor, membakar ban dan bale bengong dan menurunkan plang nama PT CPIL.

Salah seorang karyawan Kadek Suyasa mengatakan gaji karyawan kembali telat pembayarannya selama tiga bulan terkahir atau sejak September lalu.”Gaji Agustus ditalangi Perusda” ujarnya.

Menurutnya Setelah beberapa kali dimediasi di Pemkab Jembrana termasuk dua kali mediasi di Dinas Ketenagakerjaan Provinsi Bali pada November lalu menurutnya tidak pernah ada kesepakatan antara Direksi CIPL, Perusda Bali dengan karyawan, “Saat di provinsi perwakilan Direksi CIPL sempat hadir sekali, tapi tidak ada kesepakatan, justru karyawan dibilang mangkir dan nyadap tidak tuntas, padahal produksi sempat meningkat,” ungkapnya.

BACA :  Jalan Lingkar Desa Pulukan Rampung

I Gede Miasa karyawan sadap karet menyampaikan mediasi dari anggota DPRD juga belum berhasil menghadirkan Dikreksi CIPL untuk bertemu karyawan dan mencarikan solusi terhadap persoalan penggajian yang dihadapi karyawan yang semuanya warga lokal ini.

Sehingga Selasa kemarin pihaknya mendatangi kantor perkebunan, “Kami sudah tidak nyadap sejak 1 Desember. Kami datang kesini untuk minta kepastian pembayaran upah dan status kami, tapi manajemen Perusda Bali dan CIPL Tidak ada. Karean seharian tidak ada kami segel kantor sementara” ujarnya.

Karyawan lainnya, Nengah Sudarna mengaku memang pihak manajemen beberapa hari lalu menyiapkan gaji, namun baru hanya untuk 1 bulan saja sehingga pihak karyawan tidak mau menerima dengan pertimbangan status mereka yang tidak jelas.

“Ada perubahan sistem kerja dari harian ke borongan tapi tidak jelas kapan mulai diberlakukan, ada yang bilang sudah dari Oktober, sekarang kami ingin kepastian agar jelas. Karena produksi dipengaruhi alam dan cuaca, musim kemarau siklus karet menurun”jelasnya.

I Nyoman Sugama, mengatakan peristiwa tersebut terjadi karena Karyawan PT. CPIL yang berjumlah 105 orang, selama 3 bulanbelum mendapat d engan jumlah  gaji sebesar Rp. 1.015.000 per Karyawan per bulan jumlah karyawan yang belum menerimagaji sebanyak 105 Orang.

BACA :  Pemkab Jembrana Siap Bentuk BNNK

Aksi tersebut dilakukan secara spontannitas oleh karyawan PT. CPIL guna menuntut hak yang mestinya di terima.
Karyawan menuding pencairan gaji secara bertahap setelah setiap tiga bulan sebagai upaya mengakali aturan ketenagakerjaan.

“Kami ingin ada kepastian dan kesepakatan antara Perusda, CIPL dan karyawan disaksikan Disnaker, tapi Direksi CIPL seolah-olah tidak mau bertemu karyawan. Sekarang saja BPJS Kesehatan kami sudah tidak bisa digunakan karena sudah beberapa bulan tidak dibayar, belum lagi gaji kami dipotong” ungkapnya.

Akhirnya Kapolres Jembrana, AKBP Ketut Gede Adi Wibawa langsung menemui karyawan dan berkomunikasi dengan manajemen CIPL.“Kami sudah berkomunikasi dengan manajemen, mempertanyakan kepastiannya dan kami sudah meminta Direksi CIPL turun langsung menemui karyawan untuk kami mediasi.” ujarnya.

Kapolres berharap jangan sampai karyawan bertindak anarkis karena nafkah mereka tersendat-sendat . Karyawan sementara juga dihimbau mengambil gaji yang baru satu bulan dulu agar bisa menafkahi keluarganya. Setelah dilakukan pertemuan karyawan dengan Mandor PT CIPL, akhirnyasemua blokir dinuka kemudian pulang kerumah masing-masing.(nm/bpn/tim)

BACA :  Hari Kesatuan Gerak PKK ke-52 Diisi Lomba Sambung Lagu
RELATED ARTICLES

ADS

- Advertisment -
- Advertisment -

Most Popular