Plt Ketua DPD Golkar Jembrana I Made Suardana dan istrinya
Plt Ketua DPD Golkar Jembrana I Made Suardana dan istrinya
sewa motor matic murah dibali

NEGARA, balipuspanews.com – Suhu politik menjelang Pilkada Jembrana mulai meningkat. PDIP sebagai partai pememang Pemilu dan berhak mengusung pasangan calon sendiri akan mendapat lawan yang tidak bisa diremehkan.

Kekuatan yang akan memghadapi PDIP itu muncul setelah 4 partai politik (Parpol) yang meraih kursi di legislatif sepakat berkoalisi. Koalisi 4 parpol yakni Golka , Gerindra dan Demokrat serta PKB. “Koalisi itu terbentuk saat rapat di kantor DPD Golkar Jembrana pada hari minggu,” ujar Ketua DPD Golkar Jembrana Made Suardana, Senin (9/9).

Menurut Suardana, diawal terbentuknya koalisi empat Parpol itu memang belum secara resemi membahas persiapan menghadapi Pilkada 2020 depan. Yang dibahas resmi baru kesepakatan menjalin komunikasi yang baik dengan partai pemerintah yakni PDIP sebagai pemenang pemilu. Dimana program yang baik untuk rakyat akan di dukung dan program yang kurang memihak ke rakyat akan dikritisi.

“Kedua kami juga membahas alat kelengkapan dewan. Partai Golkar selalu pemenang atau peraih kursi terbanyak kedua meminta satu alat kelengkapan dewan dan Gerindra, Demokrat serta PKB masing-masing di AKD lain, misalnya BK atau lainnya,” ungkap Suardana yang kini duduk sebagai anggota DPRD Bali bersama istrinya Ni Wayan Wirti yang kini duduk sebagai anggota DPRD Jembrana.

Meski pada rapat itu secara resmi belum membahas Pilkada tetapi diluar rapat, terjadi pembicaraan membahas hal itu. “Koalisi yang terbentuk nanti arahnya juga Pilkada. Namun kita berbuat dan terus berbuat hingga pada saatnya nanti kita benar-benar siap,” ungkapnya.

Jika nantinya koalisi yang terbentuk bertarung pada Pilkada, kata Suardana Golkar jelas mengiginkan posisi Jembrana 1 dan pertarungan head to head karena peluang lebih besar untuk memenangkan pertarungan. Ketika ditanya apakah dirinya akan mencalonkan diri sebagai calon Bupati, Suardana mengaku masih melihat peluang dan aturan yang ada. Jika aturan tetap mengharuskan anggota dewan yang ikut Pilkada harus mundur, maka dirinya tidak akan mencalonkan diri dan akan menerima tokoh-tokoh n atau kader partai. “Jika aturan tidak berubah, koalisi ini tetap menjadi wadah dan siap menerima tokoh-tokoh atau kader partai yang akan maju. Namun tetap ada mekanismenya,” jelasnya.

Suardana juga mengakusudah membaca pergerakan beberapa tokoh masyarakat dan kader partai yang ingin maju Pilkada, seperti Made Prihenjagat, I Nengah Tamba dan I Ketut Widastra serta yang lainya. “Mereka juga berpeluang maju melalui koalisi yang terbentuk ini. Untuk pembahasan Pilkada nanti kita aka nada pembahasan lanjutan,” terangnya. (nm/bpn/tim))